Jika pagi di Bogor punya aroma khas, maka salah satunya datang dari Cungkring Bogor. Kuliner sederhana berbahan kaki dan kepala sapi ini bukan sekadar makanan, melainkan cerita hidup tentang ketekunan, rasa, dan waktu. Sejak 1975, Cungkring telah menjadi bagian dari denyut pagi warga Bogor hangat, mengenyangkan, dan penuh nostalgia.
Dari Pikulan ke Legenda Kota
Kisah Cungkring bermula dari sosok sederhana bernama Pak Jumat. Pada tahun 1975, ia menjajakan dagangannya dengan cara dipikul berkeliling, menyusuri sudut-sudut kota Bogor di pagi hari. Tanpa spanduk, tanpa media sosial hanya mengandalkan rasa.
Perlahan tapi pasti, Cungkring buatannya dikenal luas. Pelanggan setia bertambah, cerita dari mulut ke mulut menyebar. Hingga akhirnya, pada tahun 2004, Pak Jumat tak lagi berkeliling dan memilih mangkal tetap di Jalan Suryakencana kawasan yang kini dikenal sebagai jantung kuliner legendaris Bogor.
Apa Itu Cungkring? Nama, Makna, dan Isinya
Nama cungkring dipercaya berasal dari gabungan kata cungur (bibir sapi) dan kaki (sering disebut garingan oleh warga lokal). Isinya bukan main-main:
- kikil
- kulit sapi
- urat
- bagian kepala dan kaki sapi
Semua direbus berjam-jam hingga empuk, lalu disiram bumbu kacang kental khas yang gurih-manis, disajikan bersama lontong, tempe goreng, dan keripik tempe sebagai pelengkap tekstur.
Hasilnya? Sajian yang tampak sederhana, tapi kaya rasa dan karakter.
Rasa yang Tidak Pernah Berubah
Gigitan pertama Cungkring selalu menghadirkan kontras yang nikmat:
empuknya kikil dan urat, bumbu kacang yang pekat dan legit, lontong yang menenangkan, lalu renyah keripik tempe di akhir.
Inilah alasan mengapa Cungkring identik dengan menu sarapan berat, mengenyangkan, tapi tidak berlebihan. Cocok disantap pagi-pagi sebelum Bogor benar-benar ramai.
Lintas Generasi, Tetap Setia pada Resep Awal
Seiring waktu, tongkat estafet pun berpindah. Usaha Cungkring Pak Jumat kini dilanjutkan oleh generasi penerusnya, salah satunya Muhammad Deden. Meski zaman berubah, satu hal yang dijaga ketat: resep asli tidak diubah.
Di tengah gempuran kuliner modern dan makanan viral, Cungkring tetap berdiri di jalurnya—tanpa gimmick, tanpa modifikasi berlebihan. Justru di situlah kekuatannya.
Ikon Sarapan yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Cungkring bukan sekadar makanan kaki lima. Ia adalah penanda waktu. Pagi hari di Suryakencana terasa kurang lengkap tanpa antrean kecil di depan lapaknya. Banyak pelanggan datang sejak muda, lalu kembali membawa anak dan cucu mereka.
Di Bogor, Cungkring telah menjelma menjadi identitas kuliner sebuah bukti bahwa rasa yang jujur dan konsisten mampu bertahan puluhan tahun, bahkan ketika selera terus berubah.
Lebih dari Sekadar Makanan
Cungkring adalah kisah tentang kota, tentang pagi, tentang kerja keras yang dimulai dari pikulan hingga menjadi legenda. Ia mengajarkan bahwa warisan kuliner tidak selalu lahir dari dapur besar, tapi sering kali dari jalan sempit, waktu panjang, dan kesabaran luar biasa.
Dan selama pagi masih datang di Bogor, Cungkring akan selalu punya tempat di meja dan di hati.



