Saat menjelajahi kawasan bersejarah seperti Jalan Suryakencana, ingatan kita mengenai kuliner Bogor sering kali tertuju pada jajanan olahan seperti Asinan, Toge Goreng, atau Cungkring. Namun, dalam lanskap gastronomi yang utuh, keanekaragaman bahan pangan alami—khususnya keanekaragaman buah lokal—memegang peranan yang tak kalah penting.
Kota Bogor yang sejak dahulu dikenal sebagai “Kota Hujan” dan rumah bagi Kebun Raya Bogor memiliki tanah yang subur untuk tumbuh kembangnya berbagai spesies buah unik. Tiga di antaranya yang sangat identik dengan Bogor namun kian jarang ditemui dalam keseharian adalah Bisbul, Kemang, dan Campoleh.
1. Bisbul: “Buah Beludru” Beraroma Manis Khas
Salah satu buah lokal yang paling menarik perhatian saat dipegang adalah Bisbul.
- Karakteristik & Tekstur: Secara botani, bisbul memiliki nama ilmiah Diospyros blancoi. Ciri khas paling menonjol dari buah ini terletak pada kulitnya yang diselimuti bulu-bulu halus berwarna cokelat keemasan, sehingga sering dijuluki sebagai “buah beludru”.
- Asal-usul & Adaptasi: Bisbul sebenarnya berasal dari Filipina, namun telah lama didatangkan dan dibudidayakan secara turun-temurun di wilayah Bogor dan sekitarnya.
- Cita Rasa: Daging buahnya berwarna putih krim, bertekstur agak padat mirip mentega, dengan cita rasa manis yang lembut dan aroma wangi aromatik yang khas.
2. Kemang: Warisan Lanskap Pangan Pasundan
Nama Kemang tentu tidak asing bagi warga Bogor, karena diabadikan menjadi salah satu nama kecamatan di Kabupaten Bogor. Namun, buah kemang itu sendiri kini semakin langka dan jarang dijumpai di pasar-pasar modern.
- Karakteristik: Kemang (Mangifera kemanga) merupakan kerabat dekat tanaman mangga dan binjai.
- Cita Rasa & Aroma: Buah kemang memiliki aroma harum yang sangat tajam dan khas ketika matang. Daging buahnya mengandung banyak air dengan rasa masam-manis yang menyegarkan.
- Penggunaan Tradisional: Masyarakat lokal Sunda kerap memanfaatkan buah kemang segar sebagai campuran dalam sajian es buah, campuran sambal terasi yang segar, atau dimakan langsung saat matang pohon.
3. Campoleh: “Sawo Mentega” Bertekstur Lembut
Buah ketiga yang tak kalah unik adalah Campoleh, atau yang juga dikenal secara luas oleh masyarakat dengan sebutan sawo mentega, sawo ubi, atau canistel.
- Karakteristik: Campoleh memiliki bentuk bulat lonjong dengan ujung runcing dan kulit berwarna kuning cerah saat matang.
- Cita Rasa & Tekstur: Berbeda dari buah berair pada umumnya, daging buah campoleh yang matang memiliki tekstur yang sangat lembut, padat, dan agak kering—mirip seperti tekstur ubi rebus atau kuning telur rebus. Cita rasanya manis gurih yang unik dan mengenyangkan.
Makanan sebagai Bagian Ekosistem Pangan Lokal
Dari sudut pandang gastronomi, mengenal buah-buahan tradisional seperti bisbul, kemang, dan campoleh bukan sekadar urusan nostalgia kuliner. Kehadiran tanaman-tanaman ini merekam keanekaragaman hayati dan lanskap pangan asli yang pernah menopang kehidupan masyarakat Bogor.
Kian langkanya keberadaan buah-buah ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian pohon-pohon buah lokal di tengah pesatnya pembangunan perkotaan. Mengenal kembali bentuk, aroma, dan rasanya adalah langkah awal untuk mengapresiasi kekayaan alam Nusantara yang tiada tandingannya.



